Berbisnis Photobox

Memulai bisnis Photobox bisa dengan mencari sendiri perangkat dan system yang diperlukan kemudian merangkai dan mencoba dulu sampai berhasil, kemudian dikomersialkan. Semacam trial & errorlah. Butuh waktu dan pengorbanan.
Yang lebih gampang, tentunya membeli perangkat jadi dari Supplier, dan mecari tempat yang pas buat memulai bisnis. Beberapa supplier menggunakan system yang sudah terintegrasi dan tidak bisa dibeli terpisah ( Di M_studio, Time Zone dengan mesin Daesung Korea, dll). Biasanya harganya di kisaran lebih dari Rp. 70.000.000,-. Cukup mahal untuk sebagian pemula. Mesin serius ini cukup complicated, dan memerlukan jasa pemeliharaan yang cukup tinggi. Hasil photonya sangat bagus, tetapi biaya operasionalnya tinggi. Memerlukan supply bahan yang khusus, dan biasanya menggunakan Printer Dye Sublimation.
System lain menggunakan komputer standard dengan software khusus dari luar negeri. Rata-rata software ini memerlukan OS Windows 2K / XP untuk operasionalnya. Harga perangkat ini di kisaran Rp.25.000.000,- - Rp. 36.000.000,-. Biasanya dibedakan kelas kelengkapan software, jenis kamera yang dipakai, dan jenis printernya.
Pada kelas low end jenis kameranya adalah CCTV atau yang sering disebut Shotgun Camera.
Karena tujuannya untuk Fun Photo, resolusi yang hanya 0.3K bukanlah jelek-jelek amat. Apalagi kalau hanya dicetak ukuran 4R (A6) dengan berbagai pose, sehingga praktis masing-masing photonya cuma seukuran prangko. Printer yang dipakai adalah Inkjet printer dengan sistem infus untuk menghemat biaya operasional.
Naik satu kelas ada yang menggunakan Webcam 1.3 MP dengan sistem cetak yang sama. Hasilnya sedikit lebih bagus.
Yang di kelas middle biasanya menggunakan kamera digital >3MP. Software di system dengan kamdig ini ada beberapa macam. Pertama menggunakan teknik photo dulu, baru diolah variasi untuk cetak. Yang lebih baru adalah WYSIWYG alias Photo Chromakey seperti penyiar di TV yang menngunakan Background biru, yang mana pada saat berphoto, previewnya adalah gambar yang sebelumnya telah dipilih akan menjadi Background photonya menggantikan layar biru tersebut. Hasilnya cukup bagus, apalagi kalau menggunakan printer Dye Sublimation. Kekurangannya biasanya dari tata cahaya yang hanya menggunakan continuous light, sehingga kurang natural dan kadang kurang kuat.
Lokasi yang bagus untuk bisnis ini adalah lokasi yang trafficnya sangat tinggi di kalangan ABG. Mal adalah pilihan favorit Investor. Disini kita harus merogoh kocek cukup dalam untuk sewa di depan pada saat akan memulai usaha.
Salah satu klien kami di Royal Plasa dekat bioskop ( Cute Photobox ) memulai dengan sewa lokasi Rp.17.000.000,- / tahun. Menggunakan system low end dengan tambahan cetak Pin.
Hasil yang dapat cukup feasible untuk usaha. Di lokas mal yang sama, dua lantai di bawahnya mendekati eskalator ( Belbry Photobox dengan 2 unit low end ) hasilnya lebih baik dan bebas antrian.
Sebagai project alternantif untuk kelas non-mall, kami mencoba mencari lokasi alternatif di pinggiran kota, tetapi tetap dengan traffic ABG yang tinggi. Supermarket besar dengan lokasi dekat banyak sekolah menengah. ( MASTER Swalayan Sidoarjo ). Ini merupakan pilot project untuk daerah pinggiran. Kami menempatkan system low end dengan USB Cam 1.3MP dan Inkjet Printer. Hasilnya tidak disangka bisa bersaing dengan mal. Dengan omset di kisaran Rp.5.00.000,- / bulan atau Net Profit Rp.3.500.000,- bisa mencapai Break Event Point 5 bulan saja. Kami merencanakan beberapa lokasi pinggiran lain untuk mengikuti sukses ini.

1 komentar:

  1. knicksgrl0917 mengatakan...

    hey! i'm going to cali this weekend and won't be back until september...here is the website i was talking about where i made extra summer cash. Later! the website is here


Kelompok Usaha by Digimedia


Digimedia Copyrights@2007